Di tengah hiruk-pikuk kendaraan di kawasan Margonda, ada satu cerita sederhana tapi penuh keteguhan. Kisah para pedagang flyover Depok yang setiap hari menggelar lapak di sisi jembatan, tepat berdampingan dengan deretan lubang jalan yang tak kunjung tuntas diperbaiki. Mereka bukan sekadar mencari nafkah, tapi juga menghadapi risiko keselamatan yang terus mengintai. Bila diperhatikan lebih dekat, terlihat jelas bagaimana roda sepeda motor kerap harus bermanuver menghindari lubang, sedangkan para pedagang tetap bertahan dengan meja, payung, dan barang dagangan seadanya.
Situasi ini sudah berlangsung cukup lama. Para pedagang flyover menyaksikan langsung bagaimana kondisi jalan terus berubah mengikuti musim. Saat hujan deras, lubang-lubang semakin dalam, menjadi kubangan kecil yang memantulkan lampu kota. Pada hari cerah, debu halus berterbangan, menempel di makanan, pakaian, bahkan wajah pembeli. Namun, semangat mereka tetap menyala. Dalam banyak obrolan ringan, terdengar keluhan kecil yang bercampur tawa, seakan hidup memang harus terus dijalani apa adanya.
Salah satu penjual minuman kopi sachet bercerita bahwa pelanggan tetap masih datang. Mereka yang bekerja di sekitar flyover sudah hafal posisi lapak. Di pertengahan percakapan dengan pedagang flyover ini, terlihat keakraban yang tumbuh antara pelanggan dan penjual, seperti kawan lama bertemu setiap hari sambil bertukar kabar seputar berita Depok hari ini, mulai dari kemacetan, pembangunan jalan, hingga gosip kompleks perumahan yang sedang ramai dibicarakan.
Di balik semua kesederhanaan itu, ada sisi perjuangan yang jarang terangkat. Beberapa pedagang flyover harus merogoh kocek sendiri untuk menambal jalan dengan kerikil atau semen seadanya. Tidak selalu berhasil, tapi sedikit banyak memberi rasa aman tambahan. Mereka sadar betul kalau menunggu perbaikan resmi bisa memakan waktu panjang. Ada pula pedagang buah potong yang sampai menempatkan papan kayu sebagai penanda agar pengendara tidak terperosok.
Sementara itu, arus lalu lintas terus bergerak. Pagi hari dipenuhi pegawai kantor yang buru-buru, siang diramaikan mahasiswa mencari tempat berteduh, dan malam jadi arena pengemudi ojek online yang mondar-mandir mengantar pesanan. Di sela rutinitas itu, pedagang flyover tetap hadir, seakan menjadi saksi hidup perubahan kota Depok dari waktu ke waktu.
Kondisi jalan berlubang ini sebenarnya kerap menjadi pembahasan publik. Warganet di media sosial ramai menyorotnya, terutama akun-akun lokal yang biasa membagikan berita Depok hari ini dan update kondisi lapangan. Ada yang berharap perbaikan cepat dilakukan, ada pula yang justru melihat kisah ini sebagai gambaran bagaimana warga Depok saling bertahan di tengah ketidakpastian pembangunan.
Meski begitu, kehidupan tetap berjalan. Para pedagang flyover mengatur strategi: ada yang mulai buka lebih pagi untuk menghindari panas terik, ada yang memutuskan menjual barang dengan kemasan tertutup agar terhindar dari debu jalan. Mereka beradaptasi, berinovasi, dan saling membantu menjaga lingkungan sekitar. Di beberapa sudut, terlihat sapu lidi, ember, bahkan karung pasir, bukan sebagai properti dagangan, namun sebagai alat bertahan hidup sehari-hari.
Cerita ini bukan sekadar tentang mencari nafkah. Ini tentang keteguhan dalam menghadapi keadaan yang tidak selalu sempurna. Tentang bagaimana manusia, seberapa sederhana pun hidupnya, selalu punya cara untuk bertahan. Kisah pedagang flyover Depok bukan kisah dramatis, namun justru karena kesederhanaannya, ia terasa begitu dekat dengan kita.
Depok terus berkembang, berubah, menyesuaikan diri dengan pertumbuhan penduduk dan infrastruktur. Namun selama perubahan itu belum benar-benar menyentuh semua sudut kota, para pedagang kecil tetap menjadi cermin kehidupan urban: keras, tapi hangat. Rapuh, tapi kuat.
Dan setiap kali kita melewati flyover itu, mungkin ada baiknya untuk sedikit memperlambat laju kendaraan. Menengok sebentar ke tepi jalan, melihat senyum kecil yang tetap bertahan meski jalan di bawah kaki mereka tidak selalu mulus.
